7 Feb

Factory Outlet Bandung

Factory Outlet Bandung sepertinya sudah menjadi sesuatu yang melekat di benak kita.  Bila membaca atau mendengar kata-kata Factory Outlet maka salah satu yang terlintas adalah Bandung. Karena bisa dibilang di kota kembang inilah industry factory outlet atau sering disingkat dengan FO tumbuh dan menyebar bak cendawan di musim hujan.

Factory outlet adalah toko di mana produsen menjual stok mereka langsung ke publik. Secara tradisional, factory outlet adalah toko yang bersebelahan dengan pabrik atau gudang produsen. Kadang-kadang mereka mengizinkan pelanggan untuk menonton proses produksi seperti di toko L.L. Bean di Amerika Serikat.

Outlet pertama kali muncul di Amerika Serikat Timur pada tahun 1930-an. Factory outlet mulai menawarkan barang yang cacat atau kelebihan produksi kepada karyawan dengan harga murah. Setelah beberapa waktu, pembelinya tidak hanya dari kalangan karyawan tapi juga masyarakat umum.

Pada tahun 1936, Anderson-Little (merek pakaian laki-laki) membuka toko outlet,yang tidak berdekatan dengani pabriknya. Sampai tahun 1970-an, tujuan utama dari factory outlet adalah untuk menjual barang berlebih atau cacat hasil produksi pada toko yang terbatas.


Namun sekarang factory outlet tidak hanya menjual hasil produksi mereka yang cacat atau berlebih tapi juga produk standar mereka. Dan lokasi FO pun sudah sangat jarang yang berdekatan atau bersebelahan dengan pabrik atau gudang nya.

Perbedaan antara Factory Outlet, Toko Outlet(Outlet Store) dan Distribution Store (DIstro)

Di factory outlet, biasanya produk yang dijual adalah dari satu merek saja. Produsen yang hanya menjual produk mereka sendiri dengan harga miring menjalankan factory outlet. Sedangkan, pengecer menjalankan toko outlet dengan berbagai merek yang dijual di sana. Pada era modern, toko-toko outlet biasanya menampilkan produsen-bermerek yang dikelompokkan bersama di outlet-outlet yang ada di mal.

Namun dewasa ini merek pakaian yang dijual di factory outlet sepertinya tidak hanya dari satu brand saja tapi banyak brand yang mereka tawarkan. Factory outlet pun banyak yang bukan kepunyaan dari produsennya melainkan pengecernya. Sehingga perbedaan keduanya menjadi agak kabur.

Factory Outlet juga berbeda dengan Distribution Outlet atau yang lebih dikenal dengan nama Distro. Dimana awal mula berdirinya distro adalah untuk menjual pakaian dan aksesoris dari band-band indie dengan label mereka sendiri. Sehingga jumlah yang diproduksi pun terbatas. Namun sekarang bukan hanya band-band indie saja yang membuka distro tapi juga kalangan umum yang memproduksi sendiri pakaian dan aksosorisnya dengan label mereka sendiri.

Karena pakaian-pakaian distro tidak dijual di toko-toko retail pakaian seperti matahari, ramayana dan lainnya yang banyak tersebar di Indonesia, jadi sangat cocok bagi mereka yang ingin tampil beda. Apalagi untuk orang yang suka tampil “eksklusif” dimana mereka tidak mau menggunakan barang yang diproduksi terlalu banyak yang terkesan pasaran, sehingga memilih menggunakan produksi distro.

Selain itu distro biasanya memiliki tema tertentu misalya distro pencinta music rock maka cenderung memproduksi pakaian dan aksesoris yang berhubungan dengan music rock. Distro yang memposisikan diri dengan alam akan memproduksi dan menjual pakaian dan perlengkapan yang bertemakan cinta alam. Distro yang menyasar pangsa pasar penggemar bola maka akan membuat dan menjual produk yang berkaitan dengan hal tersebut.

Untuk distro, komunikasi dengan komunitas-komunitas di ranah tersebut sangat diperlukan untuk memasarkan, menjual maupun menyematkan brand image pada kalangan tersebut. Selain itu banyak distro yang mendesain tampilan toko nya dengan sangat elegan dan cantik sesuai dengan tema yang mereka usung.. Kreatifitas, mengikuti trend atau bahkan membuat trend sendiri tentu sangat diperlukan untuk tetap eksis dan berkembang di industri fashion dewasa ini.

Soal kreatifitasnya orang-orang di kota Bandung, sepertinya tidak usah kita ragukan lagi. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO) mengumumkan Kota Bandung sebagai salah satu dalam jaringan kota kreatif UNESCO Creative Cities Network di markas besar UNESCO, Paris, 11 November 2015 yang disampaikan oleh Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova (Sumber http://nasional.tempo.co). Hal ini tentu sangat membanggakan, karena disejajarkan dengan kota-kota kreatif lainnya seperti Singapore, Budapest di Hungaria, Kaunas di Lithuania, Detroit di Amerika Serikat dan Puebla di Mexico.

Jadi anda mau belanja di Factory Outlet, Toko Outlet atau Distro di Kota Bandung?

Silahkan lihat artiket artikel-artikel berikut sebagai rujukan anda berbelanja fashion di kota Bandung : Factory Outlet Jalan Riau, Factory Outlet, Factory Outlet Dago, Distro Bandung.

 

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Outlet_store

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/12/058727258/unesco-umumkan-bandung-masuk-kota-kreatif-dunia-ini-petanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *